Harapan Baru Bagi Penderita Rematik
Khasiat saripati jahe dan uji klinisnya dibeberkan pada Kongres Rematik Asia Pasifik 21 – 26 Mei lalu di Beijing. Hasilnya mengatasi rematik tanpa nyeri lambung. Wartawan Intisari G. Sujayanto melaporkannya dari ibukota Republik Rakyat Cina itu.
Menyimak angka statistik ihwal penyakit rematik yang menyerang penduduk Bumi, bisa-bisa kita ciut nyali. Tercatat lebih dari 10% populasi penduduk dunia terkena rematik. Sementara di Indonesia ada sinyalemen, 20 juta orang mengidap penyakit ini.
Kendati banyak dijumpai pada orang berusia di atas 40 tahun, penyakit tulang dan sendi, atau populer dengan istilah rematik, ini bukanlah monopoli mereka. Rematik dapat hinggap pada semua golongan umur, bahkan pada anak-anak sekalipun.
Harapan Baru Bagi Penderita Rematik
Khasiat saripati jahe dan uji klinisnya dibeberkan pada Kongres Rematik Asia Pasifik 21 – 26 Mei lalu di Beijing. Hasilnya mengatasi rematik tanpa nyeri lambung. Wartawan Intisari G. Sujayanto melaporkannya dari ibukota Republik Rakyat Cina itu.
Menyimak angka statistik ihwal penyakit rematik yang menyerang penduduk Bumi, bisa-bisa kita ciut nyali. Tercatat lebih dari 10% populasi penduduk dunia terkena rematik. Sementara di Indonesia ada sinyalemen, 20 juta orang mengidap penyakit ini.
Kendati banyak dijumpai pada orang berusia di atas 40 tahun, penyakit tulang dan sendi, atau populer dengan istilah rematik, ini bukanlah monopoli mereka. Rematik dapat hinggap pada semua golongan umur, bahkan pada anak-anak sekalipun.
Bisul perut
Mitos-mitos seperti rematik timbul lantaran terlalu banyak mandi malam atau karena cuaca buruk, menjadi musuh nomor wahid dalam pengobatan. Ini sekaligus menunjukkan, masyarakat masih menganggap sepele rematik. Akibatnya, mereka lantas bereksperimen sendiri, misalnya dengan mengoleskan obat gosok pada bagian yang sakit atau minum jamu-jamuan. Padahal cara macam ini akan mengusir nyerinya saja.
Dalam melawan rematik sejauh ini dunia medis mengandalkan tiga jenis obat yaitu NSAID (antiperadangan nonsteroid), Glucocorticoids, dan SAARD (obat antirematik yang bekerja secara pelahan). Sayang, berbagai obat-obatan itu menimbulkan efek sampingan yang tidak ringan.
NSAID memang bisa menghilangkan rasa sakit dan peradangan. Namun penderita, terutama mereka yang berusia lanjut, bisa terimbas bisul perut (ulcers) dan perdarahan. Pada tahun 1997 di AS diperkirakan 107.000 pasien terkena bisul perut lantaran efek sampingan NSAID. Sementara 16.500 lainnya meninggal karena perdarahan. NSAID pun dipercaya tak ramah terhadap organ lain macam jantung, hati, dan sistem peredaran darah.
Sementara itu Glucocorticoids di samping menimbulkan osteoporosis (keropos tulang) juga mengakibatkan immunosupression. Lain lagi dengan SAARD yang punya sederet akibat buruk seperti membuat muka merah, murus, dan mual.
Tentu tak ada obat yang bebas efek sampingan. Namun bila terlalu berat efek sampingannya, efektivitasnya tentu menjadi berkurang.
Latar belakang inilah yang mendorong Dr. Lars Lindmark, Med.Sc., direktur Riset dan Pengembangan Eurovita, Denmark, meneliti jahe sebagai alternatif pengobatan rematik. Eurovita adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang obat-obatan dan makanan kesehatan.
Tumbuh sebagai semak, jahe telah dikenal punya segudang khasiat. Air rebusannya bisa mengusir batuk dan masuk angin. Parutannya terbukti menyembuhkan borok dan menghilangkan gatal-gatal. Sementara tumbukan jahe yang diberi sedikit eau de cologne dipercaya menuntaskan nyeri pinggang dan nyeri punggung.
Persoalannya adalah apakah bukti empiris tentang bermacam keampuhan jahe ini bisa diterima oleh dunia kedokteran Barat yang berpegang ketat pada uji laboratorim dan uji klinis?
Pertanyaan inilah yang coba dijawab oleh Dr. Lindmark. Untuk maksud itu ia menyeleksi lebih dari 100 jenis jahe dari berbagai belahan dunia. Pada akhir penelitian ia berhasil mengekstrak dua jenis jahe, Zingeber officinalis Roscoe dan Alpinia galanga L.
Ekstraksinya diberi nama "EV.Ext.77" dan dipopulerkan dengan nama Zinaxin, atau di Indonesia dikenal dengan nama Zinaxin Rapid. "Hasil ini sangat menjanjikan, Zinaxin akan mulai berpengaruh memperbaiki kondisi dalam 1 - 2 minggu pemakaian. Tapi jika sampai tiga bulan tidak ada perbaikan, konsumsi Zinaxin sebaiknya dihentikan," jelas Lindmark pada presentasinya di kongres tersebut. Studi lanjutan masih didalami di Universitas Johns Hopkins, AS. Tapi sampai tahap ini "EV.Ext.77" diklaim bisa menghilangkan rasa sakit, memperbaiki kemampuan fungsional, dan menjaga kesehatan sendi.
Dosis yang disarankan ialah dua kali sehari selama 2 - 4 minggu. Sementara untuk pencegahan cukup satu kapsul sehari.
Tanpa nyeri lambung
Rematik sebenarnya istilah populer untuk berbagai gangguan yang menyebabkan rasa sakit dan kekakuan pada otot dan sendi. Ditilik dari lokasi proses patologisnya, penyakit ini terbagi atas dua kelompok besar yakni rematik ekstra-artikuler dan rematik artikuler.
Rematik ekstra-artikuler terjadi di luar sendi dan paling banyak ditemukan pada 50 - 60% penderita. Contohnya fibromialgia atau populer disebut chronic fatigue syndrome. Gejalanya, nyeri pada otot. Rematik jenis ini bisa juga disebabkan oleh beban kerja sendi tertentu yang berlebihan. Misalnya, pada para atlet angkat besi, senam, atau tenis. Akibatnya, terjadilah peradangan yang teramat nyeri pada otot siku lengan, jari tangan, atau otot bagian lain.
Kalau rematik ekstra-artikuler tergolong ringan dan pengobatannya mudah, tidak demikian dengan rematik artikuler. Jenis rematik artikuler yang terbanyak menyerang penduduk Indonesia adalah osteoartritis dan artritis gout (gouty arthritis). Osteoartritis terbanyak menyerang sendi lutut, pinggul, dan pinggang bawah.
Rematik artikuler yang terberat dan paling sulit diobati adalah rheumatoid arthritis (RA). Penyebab utamanya diduga faktor autoimun atau reaksi kekebalan karena proses dalam tubuh sendiri. RA acap menyerang sendi-sendi jari kaki dan tangan, pergelangan kaki dan tangan, lutut, pinggul, dan bahu. Untungnya, jenis ini hanya diderita oleh sebagian kecil orang.
Artritis umumnya ditandai oleh rasa sakit, terutama pada sendi saat digunakan. Lama-lama rasa sakit ini menjadi permanen. Tahap lanjutan adalah adanya tanda-tanda peradangan yang terwujud seperti pembengkakan dan warna merah pada kulit.
Pada kasus osteoartritis, ketika terjadi peradangan, secara kimia sel darah putih tertarik dari aliran darah ke membran synovial yang mempengaruhi persendian.
Aktifnya darah putih memaksa tubuh mengeluarkan leukotrin (LT) dan prostaglandin (PG). PG bertanggung jawab atas rasa sakit, sementara leukotrin punya peran bisa menimbulkan peradangan kronis.
Dalam siklus ini juga dikenal dua enzim yaitu siklogenase 1 (COX-1) dan siklogenase 2 (COX-2). COX-1 merupakan enzim pemeliharaan yang berfungsi melindungi lambung dan ginjal. Sebaliknya, produksi enzim COX-2 akan memacu prostaglandin yang bertanggungjawab pada rasa sakit dan peradangan.
Nah, pada tahap ini ekstrak herbal alami pada jahe atau "EV.Ext.77" terbukti dapat merangsang pelepasan IL-4 dan IL-10, suatu zat yang bekerja selektif menghambat COX-2, sehingga dapat mengatasi peradangan tanpa efek sampingan nyeri lambung. Selain itu "EV.Ext.77" juga dapat menghambat 5 lipo-oksigenase, enzim yang berperan pada proses pelepasan leukotrin.
Mengurangi rasa nyeri
Uji klinis "EV.Ext.77" dilakukan oleh Prof. Roy D. Altman, M.D., kepala Divisi Rematologi dan Imunologi, Universitas Miami, AS. Studi ini bertujuan membandingkan efisiensi dan keselamatan antara Zinaxin dan placebo. Penelitian itu dilakukan terhadap 247 pasien penderita osteoartritis moderat pada lutut selama enam minggu. Setelah diamati secara statistik dapat disimpulkan bahwa ada perbaikan pada pasien yang mengkonsumsi ekstrak jahe dibandingkan dengan placebo.
"Itu berarti pengurangan rasa nyeri dan peningkatan kondisi. Saya tidak ragu menyarankan penggunaan Zinaxin dalam pengobatan rematik," kata Prof. Altman sewaktu mempresentasikan uji klinisnya di kongres.
Tentu saja ekstrak jahe ini menimbulkan harapan baru bagi penderita rematik. Tetapi yang lebih penting sebetulnya adalah mencegah agar penyakit yang tidak bisa disembuhkan 100% ini hinggap di tubuh kita. Olahraga rutin, seperti berenang dan naik sepeda, merupakan olahraga terbaik karena bisa menggerakkan semua sendi. Senam aerobik teratur yang tidak terlalu membebani badan sebaiknya dilakukan.
Sikap berdiri dan duduk yang benar sejak muda juga perlu diperhatikan, terutama sikap badan sewaktu melakukan pekerjaan sehari-hari. Misalnya, sewaktu mengangkat benda berat jangan membebani seluruh punggung. Sikap duduk yang sering melengkungkan tulang belakang secara berlebihan juga perlu dihindari.
Kalau itu dilakukan, maka Anda bisa mengatakan, "Selamat tinggal rematik!"
Sumber : http://www.indomedia.com/intisari/
[+/-] Selengkapnya...
[+/-] Ringkasan saja...